Desa Prajawinangun, Kaliwedi, Cirebon

Dari legenda Srombyong hingga dua desa yang berdiri megah

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Desa Prajawinangun, yang kini terbagi menjadi Prajawinangun Kulon dan Prajawinangun Wetan di Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon. Kita akan mengupas sejarah legendaris dari masa Kerajaan Islam Cirebon, proses penggabungan dua desa kuno, hingga pemekaran yang terjadi pada tahun 1982.

Letak Geografis dan Identitas Desa

Desa Prajawinangun secara historis adalah sebuah desa di Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Sejak tahun 1982, desa ini resmi dimekarkan menjadi dua desa yang berdiri sendiri hingga saat ini, yaitu Desa Prajawinangun Kulon (Prajawinangun Barat) dan Desa Prajawinangun Wetan (Prajawinangun Timur) [citation:2].

Kedua desa ini menggunakan kode pos 45165, sama dengan seluruh desa di Kecamatan Kaliwedi [citation:4][citation:6][citation:8]. Secara administratif, batas wilayah masing-masing desa telah ditetapkan secara resmi melalui peraturan daerah. Untuk Prajawinangun Wetan, batas desanya diatur dalam Peraturan Bupati Cirebon Nomor 553 Tahun 2022 Tentang Batas Desa Prajawinangun Wetan [citation:1].

2 Desa

Prajawinangun Kulon & Wetan

±4.100

Total Penduduk (estimasi)

45165

Kode Pos [citation:4][citation:6]

1982

Tahun Pemekaran [citation:2]

Sejarah Legendaris: Dari Srombyong hingga Prajawinangun

Legenda Ki Patih Semi dan Ki Gede Suro

Sejarah Desa Prajawinangun tidak dapat dipisahkan dari legenda heroik pada abad ke-15, masa awal penyebaran Islam di Cirebon. Kisah ini melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), dan dua tokoh legendaris: Ki Patih Semi dan Ki Gede Suro [citation:2][citation:3].

Setelah Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dinobatkan sebagai sultan Kerajaan Cirebon ke-1 oleh Mbah Kuwu Cirebon, penyebaran agama Islam semakin pesat. Hal ini membuat gusar Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Galuh Pakuan. Prabu Cakraningrat, Raja Kerajaan Galuh Pakuan, berniat menyerang Kerajaan Islam Cirebon [citation:2][citation:3].

Mbah Kuwu Cirebon yang memiliki ilmu kesaktian weruh sadurunge winara (mengetahui sebelum kejadian) dapat memprediksi titik kelemahan Prabu Cakraningrat. Beliau menyarankan Sunan Gunung Jati untuk memboyong putri Prabu Cakraningrat yang merupakan sekar kedaton (puteri keraton) untuk dijadikan garwa sehir (istri selir). Maka diperintahkanlah Ki Patih Semi untuk menjalankan tugas ini [citation:2][citation:3].

Dengan menggunakan ilmu Sirep, Ki Patih Semi berhasil masuk ke Kenyapuri (tempat kediaman putri raja) tanpa diketahui siapapun. Pasukan Galuh Pakuan tertidur pulas kena pengaruh ilmu Sirep. Suasana hening dan sepi, sehingga Ki Patih Semi dengan leluasa masuk dan berhasil memboyong Sang Putri. [citation:2][citation:3]

Para dayang yang tersadar melapor kepada Baginda Raja. Prabu Cakraningrat amat murka dan memerintahkan seluruh pasukan untuk menangkap durjana yang memboyong putri raja. Di luar keraton, mereka menemukan Ki Patih Semi yang sedang berlari membawa Sang Putri. Terjadilah peperangan tidak seimbang [citation:2][citation:3].

Mengukur kemampuan dan posisi yang tidak menguntungkan (berperang sambil menggendong putri), Ki Patih Semi menggunakan ilmu peringan sehingga tubuhnya berlari sangat kencang dan tidak terkejar oleh ratusan pasukan Galuh [citation:2][citation:3].

Asal-usul Nama Srombyong

Di perjalanan, Ki Patih Semi bertemu dengan Ki Gede Suro. Ki Gede Suro menyarankan agar Ki Patih Semi kembali ke Kerajaan Galuh untuk menumpas pasukan mereka supaya aman dan tidak lagi menyerang Kerajaan Islam Cirebon. Atas saran tersebut, Ki Patih Semi kembali ke Galuh, sedangkan Sang Putri dititipkan kepada Ki Gede Suro [citation:2][citation:3].

Ki Gede Suro menempatkan putri tersebut di sebuah gubug di tengah-tengah telaga. Kemudian, putri itu diboyong oleh Ki Gede Suro untuk dipersembahkan kepada Sultan Cirebon, melewati suatu daerah. Maka daerah itu selanjutnya disebut Desa Suro Boyong (Suro = nama pelaku, boyong = memboyong putri). Oleh masyarakat, kemudian disebut Desa Srombyong [citation:2][citation:3].

Penggabungan Desa: Srombyong dan Blendung

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya tahun 1916, terjadi peristiwa penting dalam sejarah desa ini. Dua desa yang bertetangga, yakni Desa Srombyong dan Desa Blendung, digabung (dimerger) menjadi satu desa [citation:2][citation:3].

Pada waktu itu, yang menjadi Wedana Arjawinangun adalah Wangsa Praja. Oleh sang wedana, nama desa hasil penggabungan tersebut diganti menjadi Prajawinangun. Nama ini memiliki arti: "Praja" diambil dari nama belakang wedana (Wangsa Praja), dan "Winangun" berarti bertegas atau memperkokoh di kawedanan Arjawinangun [citation:2][citation:3].

Sejak saat itulah, desa ini dikenal dengan nama Prajawinangun, yang kemudian dipimpin oleh sejumlah kepala desa secara bergantian.

Daftar Kepala Desa Prajawinangun Sebelum Pemekaran

Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun, berikut adalah nama-nama Kepala Desa Prajawinangun sebelum dimekarkan pada tahun 1982 [citation:2][citation:3]:

📋 Daftar Kepala Desa Prajawinangun (1901-1988)
1. Sarah1901 – 1913
2. H. Sidik1913 – 1916
3. Yakyah1916 – 1923
4. Tsabit1923 – 1924
5. Baleg1924 – 1932
6. Nursari1932 – 1935
7. H. Nasikin1935 – 1936
8. Sanyar1936 – 1945
9. Sokami1945 – 1950
10. Kadmita1950 – 1967
11. H. S. Maertha1967 – 1988

Pemekaran Desa Tahun 1982

Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk Desa Prajawinangun semakin bertambah. Dengan pertimbangan untuk mempercepat laju pembangunan, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan, maka Pemerintah Daerah pada tahun 1982 memutuskan untuk memekarkan Desa Prajawinangun menjadi dua desa, yakni [citation:2][citation:3]:

🌿 Prajawinangun Kulon

Kulon = Barat

Desa hasil pemekaran di bagian barat

🌅 Prajawinangun Wetan

Wetan = Timur

Desa hasil pemekaran di bagian timur

Sejarah Prajawinangun Kulon Pasca Pemekaran

Setelah dimekarkan pada tahun 1982, Desa Prajawinangun Kulon pertama kali dipimpin oleh seorang Pejabat Desa bernama Bapak Tasian. Beliau sebelumnya adalah seorang Kliwon (kepala dusun) untuk wilayah Blendung pada saat dua blok (Srombyong dan Blendung) masih menjadi satu desa dengan nama Prajawinangun [citation:2][citation:3].

Bapak Tasian memimpin Desa Prajawinangun Kulon sebagai pejabat selama kurang lebih tiga tahun. Pada masa kepemimpinannya, kantor balai desa masih berada di perempatan jalan poros sebelah barat (sekarang menjadi rumah Ibu Muryati). Masjid yang digunakan untuk shalat Jumat berada di Blok Tengah sebelah selatan (sebelah selatan rumah almarhum Bapak Jaenudin) [citation:2][citation:3].

Pada tahun 1984, terjadi peristiwa penting: gusuran tanggul Sungai Ciwaringin yang mengakibatkan masjid desa terkena dampak dan harus dipindahkan. Masjid kemudian dipindah ke lokasi yang sekarang, yaitu di sebelah barat SDN Prajawinangun Kulon [citation:2][citation:3].

Proses pemindahan masjid tidak mudah karena pemerintah desa tidak memiliki lahan untuk pembangunan masjid yang dekat dengan perkampungan warga. Tanah yang sekarang berdiri bangunan Masjid Jami Nurul Huda dahulu adalah tanah milik warga, yaitu [citation:2][citation:3]:

Pemilik tanah mendapatkan ganti tukar (tukar guling) dengan tanah di lokasi lain. Ki Duljabar dan Bapak Syamsudin mendapatkan tanah di sebelah selatan jalan Ki Gesang (sekarang berdiri Alfamart dan Indomart), sedangkan Bapak Lebe mendapat ganti tukar dengan tanah titi sara Desa [citation:2][citation:3].

Pemilihan Kuwu Pertama Prajawinangun Kulon

Sebagai pejabat desa, Bapak Tasian memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan pemilihan kepala desa di Desa Prajawinangun Kulon untuk pertama kali setelah pemekaran. Pada tahun 1986, dilaksanakanlah pesta demokrasi untuk memilih kepala desa. Kontestasi diikuti oleh dua orang calon, yaitu [citation:2][citation:3]:

Setelah melalui proses pemilihan yang demokratis, terpilihlah Bapak Basuni sebagai Kepala Desa definitif pertama untuk Desa Prajawinangun Kulon [citation:2][citation:3].

Seiring terpilihnya Bapak Basuni, kantor pemerintahan desa dipindah ke Blok Tengah (rumah Bapak Sobari) yang sekarang berada di belakang warung Mie Ayam Goyang Lidah. Hingga akhirnya dengan inisiatif Bapak Basuni selaku kepala desa, mulailah dibangun kantor desa yang berada di jalan Cokro (lokasi kantor desa sekarang) [citation:2][citation:3].

Masa kepemimpinan Kuwu Basuni tidak sampai akhir masa jabatan. Karena satu dan lain hal, kepemimpinan desa Prajawinangun Kulon berpindah kepada pejabat yang saat itu menjabat sebagai sekretaris desa, yaitu Bapak Kadmari. Bapak Kadmari adalah warga desa Prajawinangun Kulon dari Blok Sikayi. Sebagai Penjabat desa, beliau berhasil menyelenggarakan Pemilihan Kuwu untuk yang kedua kalinya [citation:3].

Profil Desa Prajawinangun Wetan

Desa Prajawinangun Wetan merupakan bagian timur dari hasil pemekaran Desa Prajawinangun pada tahun 1982. Berdasarkan data sensus tahun 2010, desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.636 jiwa [citation:5]. Data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cirebon tahun 2022 mencatat jumlah lansia tidak produktif di desa ini mencapai 484 orang [citation:7].

Secara administratif, batas wilayah Desa Prajawinangun Wetan telah diatur secara resmi melalui Peraturan Bupati Cirebon Nomor 553 Tahun 2022. Peraturan ini menetapkan batas-batas desa secara jelas untuk tertib administrasi pemerintahan [citation:1]. Desa ini memiliki kode Kemendagri 32.09.29.2003 [citation:5].

Data Penduduk dan Kesejahteraan

Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cirebon tahun 2022, jumlah warga lanjut usia (lansia) tidak produktif di kedua desa Prajawinangun adalah sebagai berikut [citation:7]:

📋 Data Lansia Tidak Produktif (2022) [citation:7]
Desa Prajawinangun Kulon263 orang
Desa Prajawinangun Wetan484 orang
Total747 orang

Pada bulan Desember 2022, Wakil Bupati Cirebon, Hj. Wahyu Tjiptaningsih (Wabup Ayu), menyalurkan bantuan sembako kepada para lansia terlantar dan tidak produktif di Kecamatan Kaliwedi, termasuk di kedua desa Prajawinangun, sebagai upaya mengurangi beban hidup mereka [citation:7].

Informasi Kode Pos dan Administrasi

Kedua desa Prajawinangun menggunakan kode pos 45165 yang berlaku untuk seluruh desa di Kecamatan Kaliwedi [citation:4][citation:6][citation:8]. Struktur kode pos 45165 adalah sebagai berikut [citation:4][citation:8]:

Untuk pengiriman surat atau paket ke Prajawinangun, format alamat yang benar adalah [citation:8]:

[Nama Penerima]
Prajawinangun [Kulon/Wetan], Kaliwedi
Cirebon, Jawa Barat
Indonesia, 45165

Ringkasan Informasi Desa Prajawinangun

📋 Informasi Umum Desa Prajawinangun
Asal-usul NamaSrombyong + Blendung (1916) → Prajawinangun (dari Wangsa Praja + Winangun) [citation:2]
Tahun Pemekaran1982 menjadi Prajawinangun Kulon dan Prajawinangun Wetan [citation:2]
KecamatanKaliwedi, Kabupaten Cirebon
Kode Pos45165 [citation:4][citation:6][citation:8]
Kode KemendagriPrajawinangun Kulon: 32.09.29.2002
Prajawinangun Wetan: 32.09.29.2003 [citation:5]
Penduduk Prajawinangun Wetan (2010)3.636 jiwa [citation:5]
Lansia Tidak Produktif (2022)Kulon: 263 orang, Wetan: 484 orang [citation:7]
Peraturan Batas DesaPrajawinangun Wetan: Perbup No. 553/2022 [citation:1]
Kepala Desa Pertama Prajawinangun KulonBapak Basuni (terpilih 1986) [citation:2]
Masjid BersejarahMasjid Jami Nurul Huda (Prajawinangun Kulon) [citation:2]

Prajawinangun: Jejak Sejarah yang Terbagi Dua

Desa Prajawinangun menyimpan perjalanan sejarah yang panjang dan menarik. Berawal dari legenda heroik Ki Patih Semi dan Ki Gede Suro yang melahirkan nama Srombyong, kemudian bergabung dengan Desa Blendung pada masa kolonial Belanda tahun 1916, hingga akhirnya diberi nama Prajawinangun oleh Wedana Wangsa Praja [citation:2][citation:3].

Kebutuhan akan pelayanan dan pembangunan yang lebih baik mendorong pemekaran desa pada tahun 1982, melahirkan dua desa yang kini berdiri sendiri: Prajawinangun Kulon dan Prajawinangun Wetan. Masing-masing desa memiliki dinamika pemerintahan dan pembangunannya sendiri, namun tetap terikat oleh sejarah dan akar budaya yang sama [citation:2].

Kisah perjuangan warga Prajawinangun Kulon dalam memindahkan Masjid Jami Nurul Huda akibat gusuran Sungai Ciwaringin pada tahun 1984 menjadi bukti kegotongroyongan masyarakat yang patut diapresiasi. Semangat "winangun" (membangun) terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi [citation:2][citation:3].

Semoga dengan hadirnya tulisan ini, pembaca semakin mengenal dan mencintai Desa Prajawinangun Kulon dan Prajawinangun Wetan, Kecamatan Kaliwedi, Cirebon — desa yang menyimpan legenda heroik, sejarah penggabungan, dan semangat pemekaran untuk kemajuan bersama.

Kembali ke Beranda Desa

#Prajawinangun #PrajawinangunKulon #PrajawinangunWetan #KaliwediCirebon #SejarahCirebon #Srombyong #Blendung