Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Desa Warga Binangun, sebuah desa yang kaya akan sejarah dan tradisi di Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon. Kita akan mengupas legenda, adat istiadat, serta kehidupan masyarakatnya, terinspirasi dari penyajian informasi ala guwalor.web.id yang informatif dan dekat dengan masyarakat.
Letak Geografis dan Identitas Desa
Desa Warga Binangun adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan bagian dari 9 desa di Kecamatan Kaliwedi dengan kode pos 45165 [citation:1][citation:4]. Secara geografis, Desa Warga Binangun memiliki luas wilayah 304.040 Ha dengan batas-batas sebagai berikut [citation:3]:
- Sebelah Utara: Wilayah Desa Guwa
- Sebelah Timur: Wilayah Desa Gegesik Kidul
- Sebelah Selatan: Wilayah Desa Ujungsemi
- Sebelah Barat: Wilayah Desa Guwa
Desa Warga Binangun berada pada ketinggian 8 meter di atas permukaan laut, menjadikannya wilayah dataran rendah yang cocok untuk pertanian [citation:1].
3.000+
Penduduk [citation:3]
304 Ha
Luas Wilayah [citation:3]
8 mdpl
Ketinggian [citation:1]
Petani
Mayoritas Mata Pencaharian [citation:3]
Sejarah Desa: Dari Kalimati Menuju Warga Binangun
Legenda Ki Madun Jaya dan Tongkat Sakti
Asal-usul Desa Warga Binangun tidak lepas dari sosok Ki Madun Jaya, seorang Ki Gede Guwa yang sakti mandraguna. Menurut cerita turun-temurun yang dihimpun dari tokoh masyarakat, Ki Madun Jaya adalah seorang pemimpin bijaksana yang tidak pernah melawan ketika diserang gerombolan perampok. Ia lebih memilih menghindar dan meninggalkan daerahnya menuju Indramayu. Namun, ia selalu mengamati penduduk Desa Guwa dengan menancapkan tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular sebesar kendang atau menjadi wot (jembatan) untuk membantu menyeberangkan penduduk [citation:3].
Pada suatu ketika, Ki Madun Jaya hendak berkunjung menengok warganya dengan membawa tongkat pusakanya. Saat tiba di tepi Sungai Kedung Kelapa, ia berhenti untuk membuang hajat dan meletakkan tongkatnya. Namun tiba-tiba tongkat itu hilang. Kemudian beliau mengucapkan: "Nanti manakala di wilayah ini berpenduduk, wilayah ini dinamakan KALIMATI, kali artinya Sungai dan Mati diasumsikan terkena musibah" [citation:3].
Berdirinya Padukuhan Kalimati
Bertahun-tahun kemudian, terbuktilah ucapan Ki Madun Jaya. Masyarakat mulai hidup bergerombol di pecantilan, meliputi Blok Pesantren, Blok Jerebeng, dan Blok Bongkok. Ketiganya masih dalam naungan wilayah Pemerintah Desa Guwa. Penduduk terus bertambah hingga akhirnya mereka merasa perlu menyatu dalam satu pedukuhan bernama Kalimati. Masyarakat kemudian mengusulkan kepada Pemerintah Kecamatan untuk memisahkan diri dari desa induknya (Desa Guwa) [citation:3].
Permintaan masyarakat dikabulkan. Terjadilah pemilihan Kepala Desa pertama, dan wilayah itu resmi menjadi Desa Kalimati dengan Kuwu Pertama bernama Ki Kerta yang menjabat dari tahun 1899 hingga 1917 [citation:3].
Perubahan Nama Menjadi Warga Binangun
Dalam kurun waktu yang cukup lama, taraf ekonomi masyarakat Desa Kalimati tertinggal dibanding desa-desa lainnya. Melalui upaya Camat Gegesik (Bapak Wirya), pada tahun 1959 Kuwu H. Moh. Harun berinisiatif mengadakan musyawarah dengan seluruh tokoh masyarakat dan Camat Wirya. Hasil musyawarah menghasilkan keputusan penting: mengganti nama desa dari KALIMATI menjadi WARGABINANGUN [citation:3].
Secara etimologi, WARGA berarti masyarakat, BINANGUN berarti mau membangun. Nama baru ini membawa semangat baru bagi masyarakat untuk bangkit dan membangun desa bersama-sama. Alhamdulillah, kini masyarakat Desa Warga Binangun hidup berkecukupan dengan mata pencaharian utama sebagai petani, sebagian pedagang, dan sebagian Pegawai Negeri Sipil [citation:3].
Pemekaran Wilayah ke Kecamatan Kaliwedi
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Cirebon pada tahun 2000, terjadi pemekaran wilayah. Desa Warga Binangun yang semula masuk wilayah Kecamatan Gegesik, resmi masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kaliwedi hingga saat ini [citation:3].
Tradisi dan Adat Istiadat
Sedekah Bumi: Ritual Tasyakuran Panen Raya
Salah satu tradisi terbesar yang masih dilestarikan adalah Sedekah Bumi. Setiap tahun, warga Desa Warga Binangun menggelar tasyakuran sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen padi. Ritual ini melibatkan ribuan warga, tidak hanya dari Warga Binangun tetapi juga dari desa-desa sekitarnya [citation:2].
Puncak acara adalah arak-arakan dengan berbagai atraksi seni tradisional. Pada tahun 2023, Wakil Bupati Cirebon, Hj. Wahyu Tjiptaningsih (Wabup Ayu), turut hadir dan ikut menaiki kereta kencana singa barong — karya seni murni buatan warga Warga Binangun. Puluhan kereta singa barong berukuran besar diarak keliling kampung, dimulai dari Kantor Balai Desa Warga Binangun dan berakhir kembali ke balai desa. Warga membawa berbagai hasil pertanian dan makanan tradisional, kemudian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama serta sesepuh masyarakat adat [citation:2].
Tradisi Lain yang Masih Melekat
Selain sedekah bumi, beberapa adat istiadat yang masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat Warga Binangun antara lain [citation:3]:
- Nujuh Bulanan — upacara adat kehamilan tujuh bulan
- Tahlilan Kifayah — doa untuk orang meninggal
- Mauludan — peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
- Rajaban — peringatan Isra Mi'raj
- Tahlilan setiap Jum'at — doa bersama rutin
Riwayat Kepemimpinan Desa Warga Binangun
Desa Warga Binangun telah mengalami beberapa kali pergantian Kepala Desa sejak tahun 1899 hingga sekarang [citation:3]:
| 📋 Daftar Kepala Desa Warga Binangun (sejak bernama Kalimati) | |
|---|---|
| Ki Kerta | 1899 - 1917 (Kuwu Pertama) |
| Ki Suminta Sastra | 1917 - 1921 |
| Ki Nurkim | 1921 - 1924 |
| Ki Karta | 1924 - 1932 |
| Ki Kemas | 1932 - 1934 |
| Ki Irsyad | 1934 - 1945 |
| Ki Ikhsan Sholeh | 1945 - 1951 |
| Ki Masduki | 1951 - 1955 (masa penjajahan Belanda) |
| Ikhsan Sholeh | 1955 - 1959 |
| H. Moh. Harun | 1959 - 1969 (mengganti nama menjadi Wargabinangun) |
| H. Moh. Harun | 1969 - 1980 |
| Rawi | 1980 - 1989 |
| Saefudin Harun | 1989 - 1998 |
| Khaerudin (Pj) | 1998 - 1999 |
| Kosim Dasuki (Pj) | 1999 - 2000 |
| Syamsuri (Pj) | 2000 - 2001 |
| Saepudin Harun | 2001 - 2011 |
| Sobari, S.Pd.I. | 2011 - 2017 |
| Moh. Idris (Pj) | 2017 - 2018 |
| Qoribulloh | 2018 - 2024 |
| Muhidin | 2024 - sekarang |
Sumber: Tokoh masyarakat Desa Wargabinangun, dihimpun oleh Mahasiswa KKN STKIP NU Indramayu Tahun 2024 [citation:3]
Kehidupan Masyarakat dan Keamanan Desa
Keamanan dan ketertiban di Desa Warga Binangun terus dijaga melalui kerjasama antara aparat kepolisian dan masyarakat. Bhabinkamtibmas Desa Warga Binangun secara rutin melaksanakan sambang warga untuk menjalin silaturahmi dan memberikan himbauan kamtibmas, terutama menjelang pemilu atau pilkada [citation:5].
Kegiatan positif seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain, sehingga lingkungan tetap terjaga dengan baik dan keamanan di desa terus kondusif [citation:5].
Inspirasi dari Semangat "Warga Binangun"
Nama Warga Binangun bukan sekadar identitas administratif, tetapi cerminan semangat kolektif masyarakatnya untuk terus membangun. Dari masa kelam ekonomi sebagai Desa Kalimati, melalui musyawarah dan kebersamaan, mereka bangkit menjadi desa yang berkecukupan. Tradisi sedekah bumi yang digelar meriah setiap tahun membuktikan bahwa nilai-nilai leluhur dan syukur kepada Tuhan masih mengakar kuat di hati masyarakat [citation:2][citation:3].
Semoga dengan hadirnya tulisan ini, pembaca semakin mengenal dan mencintai Desa Warga Binangun, Kecamatan Kaliwedi, Cirebon — desa yang menyimpan legenda, menjunjung tradisi, dan terus melangkah maju bersama.
Kembali ke Beranda Desa#WargaBinangun #KaliwediCirebon #SejarahCirebon #SedekahBumi #BudayaJawaBarat